[SmartParenting] Anak dan Gadget-nya, Beberapa Tips Penting untuk Orang Tua

Saya tergelitik untuk menuliskan topik ini karena semakin banyak melihat para praktisi pendidikan yang memberikan penjelasan tentang penggunaan gadget (smartphone dan tablet) oleh anak namun dengan penjelasan yang tidak seimbang, karena hanya mengupas sisi jelek atau negatifnya tanpa memberikan penjelasan manfaat baiknya maupun langkah preventifnya.
Beberapa hari lalu, pada saat open house sekolah kedua anak saya, pada saat sesi parenting tentang “Storytelling untuk Anak dan Manfaatnya” ada satu orang tua siswa yang bertanya kepada salah satu guru pria penyaji materi. “Bagaimana dampak penggunaan tablet untuk anak-anak, khususnya balita? kan banyak tuh aplikasi-aplikasi pembelajaran yang bisa digunakan anak untuk belajar?” tanya nenek yang kebetulan jadi ketua paguyuban orang tua di sekolah ini. Kemudian guru tersebut menjawab “Penggunaan tablet bagi anak akan menghilangkan sisi sosial dari anak, dimana anak akan cenderung egois, ingin menang sendiri, emosional dan tidak tahu kondisi sekitar”. Karena belum mendapat jawaban yang memuaskan, sang nenek pun terus bertanya, namun sekali lagi, menurut saya jawabannya belum seimbang karena hanya mengupas sisi negatifnya saja tanpa menyentuh sisi positif apalagi tindakan pencegahannya.

Jawaban dari si Guru mungkin ada benarnya. Apapun, jika digunakan secara berlebihan pasti berdampak buruk, termasuk penggunaan gadget berlebihan pada anak, yang mungkin akan berdampak seperti penjelasan guru diatas, dimana anak menjadi sulit berkonsentrasi, egois, ingin menang sendiri, hingga menyebabkan ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder). Sebagai pemerhati teknologi pendidikan, dengan penjelasan dari Guru seperti itu saya merasa tergugah untuk mengkritisinya. Lah? Mengapa lewat tulisan? Mengapa tidak pada saat acara saja saya memberikan penjelasan ini? Waktu itu saya masih mengamati fenomena, dimana saya beberapa kali menemukan penjelasan dari praktisi pendidikan, dokter anak bahkan psikolog anak yang memberi penjelasan ke saya tentang dampak negatif dari gadget, that’s it! tanpa penjelasan dampak baiknya. Dan ketika bertemu dengan para ahli tersebut otak saya masih berputar untuk mencari penjelasan yang tepat untuk meyakinkan bahwa apa yang mereka sampaikan masih kurang seimbang 🙂

Menyajikan sisi negatif teknologi saja kepada orang tua siswa jelas bukan solusi efektif, karena seperti yang kita tahu bahwa kita tidak dapat menolak kehadiran teknologi disekitar anak-anak kita. Bagi anak-anak kita (sebagai warga asli negeri digital yang lahir ketika teknologi informasi dan komunikasi telah ada dan tengah booming), teknologi merupakan pelengkap yang tidak bisa mereka tinggalkan, bahkan sebagai fondasi kehidupan sehari-hari mereka. Namun bagi sebagian orang tua (sebagai imigran di negeri digital), seringkali teknologi menjadi ancaman :).

Di era sekarang, para Guru dan orang tua sebaiknya “berteman” dengan teknologi, daripada “memusuhi” dan tidak mengijinkan anak-anaknya menggunakan teknologi. Saya memaklumi jawaban dari Guru ataupun para ahli yang saya temui yang hanya mengupas sisi negatif tanpa memberikan pengertian yang seimbang mengenai manfaat dan tindakan preventifnya mungkin dikarenakan minimnya pengetahuan mereka tentang penggunaan teknologi untuk anak-anak, dan menjadi tugas saya untuk memberikan penjelasan mengenai hal ini supaya terdapat titik temu dan bermanfaat untuk semua. Berikut adalah tips dari saya untuk para orang tua:

Tips 1 : Wahai Orang Tua dan Guru, Belajarlah Juga Mengenal TIK!

Teknologi seperti halnya “pisau”, punya dua sisi, bisa digunakan untuk kebaikan atau keburukan. Jika sebelumnya kita menilai teknologi dari sisi buruknya, maka yang perlu kita lakukan sekarang adalah lebih membuka diri, belajar mengenal TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) dengan mengenal lebih dalam gadget yang dimiliki dan mulai dimanfaatkan untuk kegiatan positif atau berguna. Sebagai orang tua, cobalah manfaatkan gadget untuk mencari informasi yang positif tentang pengetahuan agama, perkembangan anak, keluarga, atau informasi-informasi yang menunjang pengembangan profesi. Jangan-jangan ketika kita memiliki phobia terhadap teknologi dikarenakan kita sendiri yang hanya memanfaatkan teknologi untuk kegiatan negatif (cari selingkuhan di Facebook, cari konten porno, dsb) sehingga kita sendiri takut anak kita akan seperti kita 🙂 just kidding! ha..ha..

Banyak sesuatu yang bermanfaat jika kita sebagai orang tua atau Guru dapat menjadi role-model dalam pemanfaatan TIK yang baik. Banyak konten-konten yang menarik di App Store atau Google Play yang bermanfaat untuk anak-anak kita seperti belajar mengenal huruf, permainan edukatif, pelajaran agama, dll. Konten-konten ini sangat baik bagi anak untuk mengasah keterampilan belajar mandiri-nya. Di YouTube juga banyak video-video edukasi yang bermanfaat bagi anak-anak untuk mengenal dunia sekitarnya.

Tips 2 : Saring Kontennya dan Dampingi Buah Hati Kita

Ketika kita belajar tentang TIK, satu hal yang perlu diperhatikan, yaitu upayakan untuk melakukan pengaturan device agar tidak menampilkan konten-konten membahayakan bagi anak (dengan mengatur browser atau menambahkan aplikasi penyaring konten agar tidak menampilkan gambar atau video yang belum sesuai umur anak). Mau tidak mau, kita harus belajar teknologi untuk dapat melakukan ini :). Saya akan mengupas hal ini dalam tulisan yang berbeda.

Tidak lupa untuk selalu mendampingi anak ketika mereka menggunakan gadget. Selalu siap sedia memberi penjelasan jika mereka mengajukan pertanyaan tentang konten yang mereka akses atau lihat. Selain itu, kita juga dapat membuat skenario tentang apa-apa yang akan diakses anak. Misalnya, kita dapat bercerita terlebih dahulu tentang perubahan fisik ulat yang jadi kupu-kupu. Kemudian dari penjelasan abstrak perubahan fisik ulat jadi kupu-kupu, berikutnya kita dapat memberikan penjelasan visual dengan video YouTube tentang metamorfosis kupu-kupu sehingga anak mendapatkan gambaran yang jelas tentang bagaimana prosesnya. Setelah itu kita dapat mengajukan pertanyaan kepada anak-anak untuk menilai pemahaman mereka sekaligus menggali keingintahuan anak.

Tips 2 : Kendalikan Waktu Akses, Ajak Anak Bermain dan Berinteraksi Tanpa Mesin

Sebagai orang tua kita dapat membuat kesepakatan dengan anak-anak kapan mereka akan menggunakan gadgetnya. Misalnya seminggu dua kali, atau sekali pada hari libur saja, misalnya. Termasuk durasinya, atur batasan durasi/lamanya waktu mereka mengakses gadget, misalnya satu jam setiap harinya. Usahakan membangun kedisiplinan dari pengaturan waktu akses ini dengan membuat kesepakatan dengan anak. Usahakan anak-anak tidak mengakses gadget terlalu lama setiap harinya dan sebagai orang tua kita harus mampu mengendalikannya.

Jangan lupa untuk menyingkirkan gadget ketika berkumpul bersama keluarga agar interaksi secara optimal dapat terjadi. Seringkali notifikasi gadget dan konsentrasi anak untuk mengeksplorasi gadget menjadi kendala untuk membangun komunikasi di antara anggota keluarga karena orang tua dan anak akan sibuk dengan gadget-nya masing-masing.

Meski kita, sebagai orang tua memiliki gadget, dan terbiasa melakukan komunikasi secara virtual dengan mitra kerja (via Instant Messenger seperti BBM, WhatsApp dan email), namun demi kebaikan pertumbuhan anak kita, upayakan untuk meminimalisir melakukan komunikasi menggunakan alat-alat tersebut dengan anak. Upayakan untuk mengoptimalkan komunikasi manual dengan mereka, ajak mereka berdiskusi, berdialog, tanya jawab untuk membangun kultur komunikasi yang baik di keluarga. Keterampilan komunikasi verbal sangat dibutuhkan anak-anak untuk dapat bersaing di masa depan, jadi jangan sampai kehilangan momen untuk mendidiknya.

Tips 3 : Sekali Lagi, Pelajari Hal-Hal yang Bermanfaat Dari Teknologi, Mulai dari Kita Sebagai Orang Tua

Anak teman saya, pernah membuat kagum Guru Bahasa Indonesia-nya karena mengerjakan tugas rancangan cerita pendek dan menyajikannya dalam bentuk peta pikiran (mind-map) padahal guru-nya hanya meminta menyajikannya dalam bentuk tulisan biasa (dalam bentuk poin-poin). Mengapa anak ini menggunakan cara/metode para pekerja dewasa menyusun sebuah ide dan membuat presentasi? Jawabanya adalah karena anak ini telah dibiasakan dan diajarkan oleh orang tuanya memanfaatkan aplikasi peta pikiran dalam menyusun ide-ide.

Ketika menyajikan informasi, ajak anak kita untuk ikut melakukan pencarian. Mengapa hal ini penting? Karena anak akan mengetahui bagaimana caranya melakukan pencarian informasi di Internet dengan gadgetnya. Anak saya pernah bertanya “Pa, bagaimana sih caranya bikin es krim?”. Lalu saya memberikan jawaban lewat cerita.. hingga akhirnya sayapun mengajak anak saya untuk mencari langkah pembuatan es krim di YouTube untuk memberikan gambaran visual mengenai prosesnya. Namun, kali ini bukan saya yang mencarikan informasi dan menunjukkan videonya, tetapi saya minta anak saya untuk memegang tabletnya, membuka aplikasi YouTube dan mendiktekan huruf-huruf yang akan tersusun sebagai kata kunci pencarian “E, S, spasi K, R, I, M” atau “I, C, E, spasi, C, R, E, A, M” dan memberi penjelasan jika kata tersebut merupakan bahasa Inggris. Dengan cara seperti ini anak akan belajar pula bagaimana melakukan pencarian informasi.

Sekali lagi, kita sebagai orang tua harus menjadi role-model dalam pemanfaatan gadget yang bijak. Tanpa mengetahui manfaatnya untuk diri kita, maka kita akan sulit membuat anak kita bermanfaat dengan gadgetnya. Saya akan menuliskan hal lain tentang Net Generation sebuah generasi baru yang lahir di era digital yang telah mampu merubah dunia ini untuk menunjukkan kepada para orang tua tentang manfaat baik dari teknologi untuk anak-anak kita di lain kesempatan. So, tetap tunggu tulisan saya berikutnya ya?. Oh iya, jika terdapat pertanyaan, kritik atau saran terkait tulisan ini, silahkan menuliskannya lewat fasilitas komentar yang ada di bawah.

1 Comment

  1. awalnya sy memberikan gadget dgn mksd supaya anak sy tdk bosen tp akhirnya malah kebablasan, 30menit aja tdk pegang gadget sdh gelisah dan uring2an.

Leave A Comment?

Captcha *