Meta Analisis Pembelajaran Online, Sebuah Hasil Riset

Terdapat sebuah hasil penelitian yang menarik untuk dibaca, khususnya bagi para pendidik dan praktisi teknologi pendidikan, yaitu mengenai meta analisis pembelajaran online sebuah penelitian yang dilakukan oleh Departemen Pendidikan Amerika Serikat di Tahun 2009. Meta analisis dan kajian riset pembelajaran online empiris ini merupakan bagian dari studi yang lebih luas mengenai praktek-praktek pembelajaran online yang dilaksanakan oleh SRI International untuk Policy and Program Studies Service, U.S. Department of Education. Tujuan dari studi ini secara keseluruhan adalah untuk memberikan pedoman berbasis riset bagi pembuat kebijakan, administrator dan pendidik mengenai bagaimana cara melaksanakan pembelajaran online untuk pendidikan K-12 dan pendidikan guru.

Penelitian ini sebenarnya ditujukan untuk menjawab 4 (empat) pertanyaan berikut:Bagaimana keefektifan dari pembelajaran online dibandingkan dengan pengajaran tatap muka?Apakah menambahkan pengajaran online pada pengajaran tatap muka dapat memperkuat pembelajaran?Praktek-praktek apa yang dikaitkan dengan pembelajaran online yang lebih efektif?Kondisi-kondisi apa saja yang mempengaruhi keefektifan dari pembelajaran online?

Temuan-temuan utama yang sangat menarik adalah:

Hanya ada sedikit studi penelitian mengenai keefektifan dari pembelajaran online untuk siswa K-12 telah dipublikasikan. Suatu pencarian sistematis literatur penelitian dari 1994 sampai 2006 tidak menunjukkan studi eksperimental atau semi-eksperimental yang membandingkan efek pembelajaran online dibandingkan dengan pengajaran tatap-muka untuk siswa K-12 yang memberikan data yang memadai untuk menghitung ukuran efek. Penelitian lanjutan yang memperluas kerangka waktu sampai dengan Juli 2008 mengidentifikasi hanya lima studi yang dipublikasikan yang memenuhi kriteria meta-analisis.

Siswa yang melakukan keseluruhan atau sebagian kelas mereka secara online memiliki kinerja lebih baik, secara rata-rata, ketimbang mereka yang melakukan hal yang sama melalui pengajaran tatap muka tradisional. Hasil pembelajaran untuk siswa yang terlibat dalam pembelajaran online melebihi hasil siswa yang menerima pengajaran tatap muka, dengan ukuran efek rata-rata +0,24 lebih baik untuk kondisi online.3 Rata-rata perbedaan antara kondisi online dan tatap muka di antara 51 perbandingan secara statistic signifikan pada tingkat p<,01.4 Namun, interpretasi dari hasil ini, harus juga mempertimbangkan kenyataan bahwa kondisi online dan tatap muka pada umumnya berbeda dalam beberapa dimensi, termasik jumlah waktu yang dihabiskan oleh siswa dalam mengerjakan tugas. Oleh karenanya keunggulan yang diamati pada kondisi pembelajaran online mungkin merupakan produk aspek-aspek kondisi perlakuan tersebut selain dari media penyampaian pengajaran murni.

Pengajaran yang mengkombinasikan elemen online dan tatap muka memiliki keuntungan yang lebih besar ketimbang pengajaran tatap muka murni dan ketimbang pengajaran online murni. Ukuran efek rata-rata pada studi yang membandingkan pengajaran campuran dan pengajaran tatap muka adalah +0,35, p<,001. Ukuran efek ini lebih besar dari studi yang membandingkan kondisi online murni dan tatap muka murni, yang memiliki ukuran efek rata-rata +0,14, p<,05. Permasalahan yang harus selalu diingat dalam mengkaji temuan ini adalah bahwa banyak studi yang tidak berusaha untuk menyetarakan (a) semua materi kurikulum, (b) aspek pedagogis dan (c) waktu pembelajaran dalam kondisi perlakuan dan kontrol. Benar bahwa beberapa penulis percaya bahwa akan mustahil untuk melakukan semua itu. Sehingga keunggulan yang diamati untuk pembelajaran online secara umum, dan kondisi pembelajaran campuran khususnya, tidak selalu berasa dari murni dari media yang digunakan dan mungkin mencerminkan perbedaan materi, pedagogi dan waktu pembelajaran.

Studi di mana siswa dalam kondisi online menghabiskan lebih banyak waktu dalam melakukan tugas dari pada siswa dalam kondisi tatap muka menemukan manfaat yang lebih besar untuk pembelajaran online. Ukuran efek rata-rata untuk studi dengan waktu yang dihabiskan lebih banyak oleh siswa online +0,46 dibandingkan dengan +0,19 untuk studi di mana siswa dalam kondisi tatap muka menghabiskan waktu sama banyak atau lebih banyak ( Q = 3.88, p < .05).6

Sebagian besar variasi dalam cara di mana berbagai studi yang menerapkan pembelajaran online tidak mempengaruhi hasil pembelajaran siswa. Analis mempelajari 13 praktek pembelajaran online sebagai sumbei variasi potensial mengenai keefektifan dari pembelajaran online apabila dibandingkan dengan pengajaran tatap muka. Dari variabel-variabel tersebut,(a) penggunaan pedekatan campuran ketimbang pendekatan online murni dan (b) penambahan waktu tugas untuk praktek pembelajaran online merupakan satu-satunya pengaruh yang signifikan secara statistik. Namun, jumlah studi yang relatif kecil yang membandingkan antara hasil pembelajaran untuk pengajaran online dan tatap muka yang memasukkan informasi mengenai semua aspek spesifik dari pelaksanaan menghambat upaya untuk mengidentifikasi praktek-praktek pengajaran online yang mempengaruhi hasil pembelajaran.

Keefektifan dari pendekatan pembelajaran online terlihat cukup luas di antara berbagai isi dan jenis siswa. Pembelajaran online terlihat seperti opsi yang efektif baik untuk siswa pendidikan pra-sarjana (efek rata-rata +0.35, p<,001) dan untuk siswa paska sarjana dan profesional (+0.17, p < .05) dalam berbagai studi akademis dan profesional. Walaupun positif, ukuran efek rata-rata tidak signifikan untuk ke-tujuh perbandingan yang melibatkan siswa K-12, tetapi jumlah studi K-12 terlalu kecil untuk memberikan kepercayaan terhadap perkiraan efek rata-rata untuk kelompok siswa ini. Tiga dari studi K-12 memiliki efek signifikan menunjukkan kondisi yang lebih baik dalam pembelajaran campuran, satu memiliki efek negatif signifikan yang menunjukkan kondisi yang lebih baik untuk pengajaran tatap muka, dan tiga perbandingan tidak menghasilkan signifikansi statistik sama sekali. Ujian untuk jenis siswa sebagai suatu variabel moderator tidak signifikan. Tidak ada perubahan signifikan dalam keefektifan ditemukann terkait dengan subyek pengajaran.

Ukuran efek lebih besar untuk studi di mana kondisi online dan tatap muka bervariasi terkait dengan materi kurikulum dan aspek-aspek pendekatan pengajaran selain juga media pengajaran. Analis mempelajari karakteristik dari studi mengenai meta-analisis untuk menentukan apakah fitur-fitur metodologi studi dapat bertanggungjawab untuk efek didapatkan. Enam variabel metodologis diuji sebagai moderator potensial: (a) ukuran sampel, (b) jenis pengetahuan yang diuji, (c) kekuatan rancangan studi, (d) unit penugasan pada kondisi, (e) kesetaraan instruktur di antara kondisi-kondisi, dan (f) kesetaraan kurikulum dan pendekatan pengajaran di antara kondisi-kondisi. Hanya kesetaraan kurikulum dan pengajaran yang muncul sebagai variabel moderator yang signifikan ( Q = 5.40, p < .05). Studi studi di mana para analis menilai kurikulum dan pengajaran sama atau hampir sama dalam kondisi online dan tatap muka memiliki efek yang lebih kecil daripada studi-studi di mana dua kondisi tersebut berbeda dalam berbagai aspek pengajarn (+0,20 dibanding dengan +0,42). Pengajaran dapat berbeda terkait dengan cara kegiatan diorganisir (sebagai contoh kerja kelompok pada satu kondisi dan kerja perorangan pada kondisi lain) atau pada pelibatan sumber daya pengajaran (seperti simulasi atau ceramah instruktur) pada satu kondisi dan tidak pada kondisi lainnya.

Kondisi pembelajaran online campuran dan murni yang diterapkan dalam suatu studi tunggal pada umumnya menghasilkan hasil pembelajaran siswa yang sama. Pada saat suatu studi membandingkan antara kondisi online campuran dan murni, pembelajaran siswa biasanya mirip pada dua kondisi tersebut.

Elemen-elemen seperti video atau kuis online sepertinya tidak mempengaruhi jumlah yang dipelajari oleh siswa pada kelas online. Riset tidak mendukung penggunaan beberapa praktek pembelajaran yang sering direkomendasikan. Pelibatan lebih banyak media dalam penerapan online sepertinya tidak memperkuat pembelajaran. Praktek pemberian kuis online sepertinya tidak lebih efektif daripada taktik-taktik lainnya seperti pemberian pekerjaan rumah.

Pembelajaran online dapat diperkuat dengan memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengendalikan interaksi mereka dengan media dan mendorong refleksi siswa. Studi-studi mengindikasikan bahwa manipulasi yang memicu kegiatan siswa atau refleksi siswa dan pemantauan pemahaman mandiri efektif pada saat siswa melakukan pembelajaran online sebagai individu.

Memberikan pedoman pembelajaran untuk kelompok-kelompok siswa sepertinya lebih tidak berhasil ketimbang penggunaan mekanisme yang sama untuk siswa secara individu.Pada saat sekelompok siswa belajar bersama-sama secara online, mekanisme pendukung seperti pertanyaan pedoman pada umumnya mempengaruhi cara siswa berinteraksi tetapi tidak mempengaruhi jumlah yang mereka pelajari.

 

1 Comment

  1. Juning

    Saya tertarik dengan tulisan anda. Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis yang bisa anda kunjungi di ELEARNING

Leave A Comment?

Captcha *