[InnovatED] Pemanfaatan Kelase Dengan Pendekatan Kelas Terbalik (Flipped Classroom)

Perubahan pola pembelajaran dari tradisional (berpusat pada guru) menjadi berpusat pada siswa menimbulkan perubahan peran guru dan siswa dalam proses belajar dan mengajar. Guru akan berperan sebagai fasilitator yang tugas utamanya adalah mengelola kelas dan proses belajar yang terjadi di dalam kelas agar siswa mencapai target yang diinginkan, sedangkan siswa akan mengambil peran aktif dalam proses belajar (belajar mandiri – personalized Learning).

Sumber: http://www.slu.edu/cttl/resources/teaching-tips-and-resources/flipped-classroom-resources

Satu hal terpenting yang perlu diingat oleh para guru, dalam pola pembelajaran berpusat pada siswa, bagian terpenting dari tugas guru adalah melakukan persiapan skenario kelas dan struktur pembelajaran atau yang selama ini dilakukan yaitu menyusun RPP secara sangat detil dan menggunakan pendekatan inovatif dalam menyampaikan pembelajaran. Di dalam tulisan ini akan dibahas mengenai salah satu pendekatan yaitu Kelas Terbalik (Flipped Classroom) memanfaatkan Kelase.

Kelase merupakan sebuah platform pendidikan yang bisa dimanfaatkan oleh guru untuk mempraktekkan pendekatan kelas terbalik ini. Dengan memanfaatkan kelase maka siswa akan mendapatkan pengalaman belajar yang baru dan menyenangkan serta mendorong pembelajaran yang aktif dan kolaboratif dengan integrasi teknologi.

Mengenal Kelas Terbalik (Flipped Classroom)
Secara prinsip, kelas terbalik ada pendekatan pedagogi dimana proses ceramah dan pekerjaan rumah dilakukan secara terbalik, guru akan menaruh materi pembelajaran, tugas baca, diskusi dan quiz di media online sehingga murid bisa belajar dan bekerja secara mandiri. Sedangkan proses di kelas tatap muka akan sangat sedikit ceramah, siswa mengerjakan tugas secara kolaboratif dan mempresentasikan hasilnya. Guru berfungsi sebagai fasilitator, pelatih dan penasihat di kelas tatap muka.

Sumber: http://www.dreambox.com/blog/flipped-classroom-elementary-school-too

Sumber: http://www.dreambox.com/blog/flipped-classroom-elementary-school-too
Pembelajaran ini bisa disebut juga sebagai pembelajaran hybrid atau blended, Guru akan mengelola dua kelas yaitu kelas virtual dan kelas online. Siswa akan didorong untuk belajar mandiri dan juga berkolaborasi dengan siswa lain untuk mencapai target yang diinginkan, guru bisa melakukan pengecekan pemahaman siswa saat berada di kelas tatap muka dengan melakukan test.

Perlu dipahami bahwa semua yang bersifat online baik materi, tugas maupun quiz adalah alat bantu siswa untuk mencapai target yang diinginkan karena bisa dilakukan secara individual maupun berkelompok dimanapun dan kapanpun. Terutama masalah penilaian untuk tugas dan quiz di online akan sangat berbeda dengan tugas dan test yang dilakukan pada saat tatap muka.

Mengapa penting?
Dalam konsep pembelajaran abad 21, dikenal adanya kecakapan abad 21 yang harus dimiliki siswa untuk mampu bersaing dan bertahan hidup di era kompetisi global dan ekonomi berbasis pengetahuan, kecakapan itu antara lain adalah kemampuan bekerjasama, berkomunikasi secara efektif, berpikir kritis, pemecahan masalah, pengarahan diri serta literasi media dan teknologi. Proses belajar yang berpusat pada siswa akan mendorong terciptanya kecakapan tersebut secara sistematis.

Dengan adanya materi yang telah disiapkan guru dalam web atau ruang kelas virtual (misalnya menggunakan Kelase), maka kegiatan pembelajaran akan berubah, dimana siswa dapat mempelajari semua materi yang ada di perkuliahan secara mandiri sebelum berlangsungnya pembelajaran di kelas. Sehingga proses pembelajaran tatap muka di kelas diarahkan dan dioptimalkan untuk kegiatan eksperimen, diskusi, proyek dan penguatan.

Proses belajar di masa depan adalah yang disebut pembelajaran sepanjang hayat dan dilakukan dimanapun dan kapanpun, dengan memanfaatkan teknologi (seperti Kelase) maka siswa bisa melakukan proses belajar dimanapun dan kapanpun dan belajar untuk menjadi pembelajar mandiri.

Satu hal lagi bahwa proses pendidikan harus relevan dengan kehidupan nyata, siswa sejak kecil harus dilatih belajar sesuai dengan kondisi kerja saat ini dimana teknologi menjadi bagian yang tidak terpisahkan, bekerja dalam sebuah tim kerja (berkolaborasi), menghadapi masalah dari waktu ke waktu dan harus mencari solusinya serta bekerja akan dilakukan dimanapun dan kapanpun dibutuhkan.

Skenario Kelas Terbalik
Sebelum memanfaatkan kelase sebagai media penerapan kelas terbalik, ada beberapa langkah yang perlu dilakukan guru yaitu antara lain:

  1. Guru melihat kembali RPP yang sudah dimiliki, pelajari rencana pembelajaran selama satu semester dan pastikan beberapa hal seperti topik, tugas, test dan cara penilaian lain.
  2. Guru mulai menyusun sesi pembelajaran berdasarkan topik atau target dalam periode tertentu yang bisa disebut sebagai sesi selama satu semester.
  3. Guru mulai menyusun skenario kelas baik kelas tatap muka maupun kelas virtual untuk setiap sesinya. Pastikan bahwa hal-hal pokok seperti materi-materi ceramah, tugas baca, tugas diskusi, quiz yang sifatnya dapat dilakukan secara mandiri ataupun kolaboratif ditaruh di kelas virtual di setiap sesinya, sedangkan hal-hal yang bersifat hands-on dan kerja kelompok serta test summatif dilakukan di kelas tatap muka.
  4. Guru akan merekam perkuliahan dalam bentuk video (berbagai contoh rekaman pembelajaran dapat disimak disini). Membuat skenario pembelajaran dalam Kelas di dalam Kelase , dan mengupload semua materi digital kedalam Kelase. Kemudian membuat aktivitas seperti Penugasan, Bacaan, Forum Diskusi dan Quiz (akan ada di versi Beta).
  5. Perlu diingat dalam kondisi budaya belajar mandiri yang belum tumbuh di siswa Indonesia maka peran guru dan orang tua sangatlah penting, guru akan tetap punya waktu memberikan ceramah di kelas tatap muka dalam waktu yang singkat untuk mengarahkan siswa ke target yang diinginkan sedangkan orang tua bisa memonitor perkembangan anak dalam belajar mandiri. Kelase akan sangat membantu proses ini dimana guru dapat berhubungan terus dengan orang tua dan perkembangan belajar siswa dapat dipantau orang tua.

Mempergunakan Kelase

Setelah guru menciptakan skenario kelas yang komprehensif maka mereka bisa memulai menggunakan Kelase, beberapa hal dasar yang perlu diperhatikan :

  1. Guru/kepala sekolah yang akan menjadi admin sekolah harus mendaftarkan institusinya dulu di Kelase.
  2. Setelah terdaftar maka admin sekolah dapat mengundang guru-guru lain, siswa dan orang tua untuk ikut mendaftar di kelase dengan kode khusus yang diberikan oleh sistem.
  3. Guru mulai membangun kelas virtualnya untuk setiap kelas yang dipegang misal kelas biologi VIIA kemudian mengundang siswa yang telah terdaftar untuk masuk dalam kelas tersebut. Jadi setiap guru bisa mempunyai beberapa kelas virtual sesuai dengan banyaknya kelas yang dipegang di sekolah tersebut.
  4. Kelase juga dapat dimanfaatkan oleh guru untuk menaruh berita baik di halaman sekolah maupun di halaman kelas, tempat diskusi maupun media komunikasi dengan ortu.
  5. Siswa bisa membangun komunitas berdasarkan kegiatan yang diikutinya di sekolah seperti club voli, pramuka, club science dll.
    Akhirnya, selamat mencoba dan memberikan pengalaman belajar yang baru bagi siswanya. Mari bersama-sama mempersiapkan siswa kita untuk masa depan yang lebih baik!

Leave A Comment?

Captcha *